Senin, 01 Februari 2021

Rasanya Tes Antigen dan Swab PCR

Tanggal 20 Januari kemarin, saya dites Antigen covid 19 dengan hasil negatif. Tapi beberapa hari kemudian diminta swab PCR lagi.

Hah kok gitu? kan hasil tes antigen sudah negatif? Kenapa tes swab PCR lagi?

Hehe jadi gini, saya mau berbagi pengalaman tes Antigen dan Swab PCR yang agak unik ini.

Jadi hari senin sore, 18 Januari saya demam menggigil, lalu berobat ke rumah sakit keesokan paginya. Kemudian saya pulang dengan membawa 9 tablet paracetamol dan vitamin.

Hari Rabu, saya diminta oleh Bapak Manajer kantor untuk tes antigen, karena lonjakan kasus dan sudah 2 hari tidak masuk kerja. Saya juga heran, biasanya demam begini saya langsung sembuh, yang ini 2 hari masih terasa lemas.

Jadilah saya dites antigen untuk yang pertama kalinya. 

Saya menunggu antrian tes antigen cukup lama, dengan keadaan yang demam, laper, dan haus. Di situ saya menyadari, ternyata di lingkup lingkungan saya yang kecil ini, hasil tracing bisa sebanyak ini. Saat itulah waktunya orang bertanya tanya: hasil tracing siapa? kok tes antigen? rapid antibodinya positif? Hehe engga pak, saya demam. 

Akhirnya sayapun dipanggil untuk tes antigen. Saya disuruh duduk, kemudian membuka masker. Lalu petugas menyuruh saya tarik nafas dan memasukkan alat seperti cotton bud ke lubang hidung kanan. Eh ternyata tidak seseram itu! Hahaha.. saya malah merasa plong, tapi tetap tidak berani buka mata ahahaha. Kemudian saya diberi waktu jeda sebentar untuk menenangkan diri (sepertinya begitu). Lalu saya ditanya apakah sudah siap untuk lubang hidung kiri? Oh tentu. Saya tahan napas kali ini, untuk sesaat saya benar-benar lupa! lupa bernapas! Tapi karena merasa tidak enak, saya langsung ingat untuk tarik napas, ooh ternyata semudah ini. Saya jadi tahu, lebih terasa mudah ketika kita menarik napas saat tes antigen.

Kemudian kita jadi tahu bahwa semua orang khawatir.

Ketika tes antigen, menyebarlah berita di tempat kerja bahwa saya termasuk orang bergejala. Sore itu beberapa orang sudah menunggu-nunggu bagaimana hasil tes antigen saya. Saya baru makan siang jam setengah 4 sore sambil menunggu hasil tes yang dijanjikan keluar jam setengah 5. Setelah makan sore, pesan-pesan whatsapp sudah berdatangan menanyakan hasil tes saya. Hmm saya juga belum tahu. Saya kemudian ke rumah sakit kembali untuk mengambil hasil tes antigen daaan... hasilnya negatif. Semua orang lega mengetahui kabar ini. Saat-saat seperti ini, dengan antrian tes sebanyak itu, memang membuat banyak orang khawatir.

Obat Ajaib

Senin, 25 Januari, 5 hari sejak saya tes antigen negatif, seminggu sejak pertama kali demam. Saya belum sembuh juga. Sebenarnya dari hari Jumat, 22 Januari saya sudah masuk kerja. Sudah memastikan diri kuat namun tumbang juga ketika istirahat siang. Siang itu terasa dingiin sekali. Saya meminum salah satu dari 2 tablet paracetamol yang tersisa dan blaaaar obat ini membuat saya cling! Untuk pertama kalinya saya merasa sadar untuk berterimakasih kepada penemu obat ini. Langsung segar lagi. Tablet terakhir dari obat ajaib saya habiskan malam itu. Dan benar saja, saya langsung segar dan ketika efek obat hilang, keesokan harinya badan saya masih terasa hawa panas tapi tidak sampai mengganggu aktivitas. Dan saya pun yakin tidak butuh obat ajaib lagi hari itu.

Sibuknya Petugas Medis

Hari senin siang itu saya berinisiatif untuk kembali ke rumah sakit. Menanyakan kenapa saya tidak merasa benar-benar sembuh? Hahaha maaf ya dokter dan perawat kalau bertemu pasien yang pertanyaannya seperti saya. Tapi akhirnya saya diminta untuk ambil darah, tes rontgen thorax, dan swab PCR! woww di pikiran saya sih ini banyak sekali pengambilan datanya. 

Hari inipun ramai sekali. Banyak wajah yang saya tidak kenal di lingkungan kecil ini. Tapi kali ini lebih banyak lagi wajah-wajah yang saya kenal. Si virus makin dekat rupanya. Di sini saya melihat sendiri kalau pada saat-saat seperti ini, perawat dan dokter super duper sibuknya. Seperti tidak ada jeda. Sebentar-bentar telepon, sebentar-bentar menulis, sebentar-bentar ditanya, sambil terus memeriksa, bertanya, mengambil keputusan cepat. Tidak bisa dibayangkan kalau saya yang ada di situ, dengan kemampuan decision making seperti kacang polong. Yak dengan bayangan seperti ini, saya benar-benar tahu kenapa bukan saya yang duduk di situ. 

Negatif Bukan Berarti Sehat 

Dua hari setelah saya dites PCR, saya mendapat kabar bahwa hasilnya negatif lewat pesan whatsapp. Alhamdulillah, isolasi mandiri hanya berlangsung 2 hari. Lebih cepat sehari dari yang dijanjikan. Saya pun merasa sudah sehat.

Kekhawatiran dari 2 hari lalu juga sudah menguap. Jadi ingat ketika ditenangkan oleh dokter dengan suara pelan agar berdoa supaya hasil PCR negatif dan tidak panik dan sesak (kalau-kalau kabar positif yang datang) karena sesak itu sesungguhnya berasal dari panik, bukan dari penyakit itu sendiri. Baik, Dok, laksanakan! walaupun saya tidak tahu sesak itu sebenarnya bagaimana dan saya harus apa ketika itu terjadi. Dan saya roaming karena ada bapak-bapak tetangga yang juga ke rumah sakit hari itu yang menanyakan saya kenapa, padahal saya saat itu juga belum tahu kenapa hahaha... Sepertinya karena perlakuan perawat dan dokter ke saya terlihat lebih serius saat itu.

Oiya, PCR ini dicolok hidung kiri kanan dan tenggorokan. Rasanya lebih ngga enak daripada antigen. Antigen kan plong gitu yah ahahaha, nah ini rasanya lebih dalem, trik menarik napas rasanya tidak terlalu berlaku di sini. Jadi bersiaplah tisu bila perlu. Apalagi yang swab tenggorokan, disuruh bilang "aaaa" trus dimasukin cotton bud yang keluar suaranya jadi "aaaakkk" astagaaa cerita macam apa ini?? 

Yaah akhirnya hari ini, 1 Februari 2021, kapsul antibiotik terakhir saya habis. Ya, saya negatif covid 19 Alhamdulillah. Alhamdulillah yang ke 2 adalah saya tahu dari hasil rontgen kalau saya ada pneumonia dextra. Serabut-serabut putih di paru-paru kanan. Dan kata dokter, ini yang bikin demam melulu. Syukurnya adalah saya jadi tau ada yang kurang beres hihi. Dan sudah diberi obat antibiotik yang didelivery sampai ke teras rumah (makasih banyak RS Badak!). Dan saya sudah baik-baik saja. Dan saya sudah masuk kerja lagi. Sekarang, apakah ini mengkhawatirkan? Hmm sampai saat ini sih tidak ada keluhan. Semoga memang demikian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah membaca sampai akhir, berikan komentar dan saya akan lebih senang :)